Oleh : Suntoyo, S.Si, Guru SDN 105267 Sei Mencirim
Abstrak
Kemampuan pemecahan masalah merupakan kompetensi penting dalam pembelajaran matematika di sekolah dasar, termasuk pada materi operasi hitung campuran. Namun, siswa kelas 4 SD kerap mengalami kesulitan dalam memahami langkah-langkah dan urutan operasi, terutama saat dihadapkan pada soal-soal kontekstual. Penulisan ini bertujuan untuk mengkaji secara teoritis penerapan model Problem Based Learning (PBL) dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa pada materi tersebut. Metode yang digunakan adalah studi literatur terhadap berbagai sumber jurnal, buku, dan artikel pendidikan. Hasil kajian menunjukkan bahwa PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan mandiri siswa dalam menyelesaikan persoalan matematika. Oleh karena itu, penerapan model PBL pada pembelajaran operasi hitung campuran dapat menjadi solusi strategis untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika di kelas 4 SD.
Kata kunci: Problem Based Learning, Pemecahan Masalah, Operasi Hitung Campuran, Kelas 4 SD
BAB I
Pendahuluan
- Latar Belakang
Matematika adalah mata pelajaran yang memiliki peran penting dalam mengembangkan kemampuan berpikir logis dan sistematis pada siswa. Salah satu kompetensi utama dalam pembelajaran matematika adalah kemampuan pemecahan masalah. Pada siswa kelas 4 SD, materi operasi hitung campuran seringkali menjadi tantangan tersendiri karena melibatkan lebih dari satu jenis operasi yang harus dikerjakan secara berurutan dan sesuai aturan.
Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa banyak siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal operasi hitung campuran, terutama yang berbentuk soal cerita atau masalah kontekstual. Pembelajaran yang masih berpusat pada guru dan minim eksplorasi masalah nyata turut menjadi penyebab rendahnya kemampuan pemecahan masalah siswa.
Salah satu pendekatan yang diyakini mampu mengatasi permasalahan tersebut adalah Problem Based Learning (PBL), yakni pembelajaran berbasis masalah yang mendorong siswa aktif mengeksplorasi, menganalisis, dan menyelesaikan masalah secara kolaboratif.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana penerapan model Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah pada materi operasi hitung campuran siswa kelas 4 SD?
C. Tujuan Penulisan
Mengkaji secara teoritis efektivitas penerapan model Problem Based Learning dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah pada materi operasi hitung campuran siswa kelas 4 SD.
D. Manfaat Penulisan
- Teoretis: Menambah literatur kajian mengenai penerapan model PBL di jenjang sekolah dasar, khususnya pada materi operasi hitung campuran.
- Praktis: Memberi gambaran bagi guru tentang strategi pembelajaran alternatif yang efektif untuk meningkatkan kemampuan problem solving siswa.
BAB II
KAJIAN TEORI
- Kemampuan Pemecahan Masalah dalam Matematika
Kemampuan pemecahan masalah merupakan salah satu aspek penting dalam pembelajaran matematika. Polya (1973) menyatakan bahwa pemecahan masalah adalah proses berpikir untuk menemukan jalan keluar dari suatu kesulitan, guna mencapai suatu tujuan yang tidak dapat dicapai secara langsung. Dalam konteks pembelajaran matematika, kemampuan ini meliputi serangkaian keterampilan berpikir kritis, logis, sistematis, dan kreatif.
Menurut Krulik dan Rudnick (1995), langkah-langkah dalam proses pemecahan masalah meliputi: (1) memahami masalah, (2) merencanakan penyelesaian, (3) melaksanakan rencana, dan (4) mengevaluasi hasil. Pada siswa SD, terutama kelas 4, kemampuan ini masih perlu dibimbing dan dikembangkan secara terus-menerus agar menjadi bagian dari pola pikir mereka dalam menghadapi berbagai persoalan matematika.
Kemampuan ini menjadi lebih penting ketika siswa dihadapkan pada soal-soal cerita atau situasi kontekstual yang membutuhkan penerapan lebih dari satu operasi hitung, seperti dalam materi operasi hitung campuran. Oleh karena itu, diperlukan strategi pembelajaran yang tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga mendorong siswa untuk berpikir aktif dan menyelesaikan masalah secara mandiri.
B. Materi Operasi Hitung Campuran di Kelas 4 SD
Operasi hitung campuran adalah materi matematika yang melibatkan dua atau lebih operasi dasar, yaitu penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian, yang harus dikerjakan sesuai dengan urutan pengerjaan tertentu. Dalam Kurikulum Merdeka, siswa kelas 4 SD diharapkan mampu memahami dan menyelesaikan soal-soal operasi hitung campuran baik dalam bentuk numerik maupun soal cerita.
Kesulitan siswa dalam materi ini umumnya berkaitan dengan:
- Tidak memahami prioritas urutan operasi (misalnya: perkalian lebih dahulu daripada penjumlahan),
- Salah dalam membaca soal,
- Bingung menentukan operasi mana yang harus dilakukan lebih dulu.
Kesalahan tersebut menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih kontekstual dan aktif agar siswa tidak hanya menghafal aturan, tetapi memahami maknanya melalui pengalaman langsung menyelesaikan masalah.
C. Model Problem Based Learning (PBL)
Problem Based Learning (PBL) adalah model pembelajaran yang menggunakan masalah nyata sebagai konteks bagi siswa untuk belajar berpikir kritis, menyelesaikan masalah, dan memperoleh pengetahuan baru. Menurut Arends (2012), PBL mendorong siswa untuk menjadi peserta aktif dalam proses belajar melalui penemuan dan penyelesaian masalah secara kolaboratif.
Langkah-langkah umum dalam PBL antara lain:
- Orientasi terhadap masalah : Guru menyajikan masalah nyata atau kontekstual.
- Pengumpulan data dan klarifikasi masalah : Siswa berdiskusi untuk memahami masalah.
- Perumusan hipotesis dan rencana penyelesaian : Siswa menyusun strategi untuk memecahkan masalah.
- Penyelidikan dan pengumpulan informasi : Siswa mencari data atau menyelesaikan soal.
- Penyajian dan evaluasi hasil : Siswa mempresentasikan dan mengevaluasi solusi mereka.
Karakteristik utama PBL antara lain:
- Siswa sebagai pusat pembelajaran (student-centered),
- Belajar melalui penyelesaian masalah (learning by doing),
- Meningkatkan keterampilan kerja sama, komunikasi, dan refleksi.
D. PBL dan Kemampuan Pemecahan Masalah pada Siswa SD
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penerapan PBL di sekolah dasar berdampak positif terhadap peningkatan kemampuan pemecahan masalah siswa. Model ini memberikan ruang bagi siswa untuk mengalami proses berpikir yang kompleks dalam suasana belajar yang kolaboratif dan menyenangkan.
Dalam konteks pembelajaran operasi hitung campuran, PBL membantu siswa:
- Memahami hubungan antar operasi hitung melalui masalah nyata,
- Mengembangkan strategi pemecahan sendiri,
- Meningkatkan kepercayaan diri dalam menyelesaikan soal cerita.
Menurut Hmelo-Silver (2004), PBL tidak hanya meningkatkan pemahaman konseptual siswa, tetapi juga menumbuhkan sikap positif terhadap pembelajaran. Siswa menjadi lebih termotivasi karena merasa apa yang mereka pelajari relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, PBL dapat menjadi alternatif strategi pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, khususnya dalam pembelajaran matematika di kelas 4 SD.
BAB III
METODE PENULISAN
A. Jenis Penulisan
Penulisan karya ilmiah ini menggunakan pendekatan studi literatur (library research), yaitu metode penulisan yang dilakukan dengan menelaah, menganalisis, dan mensintesis berbagai sumber pustaka yang relevan untuk memperoleh pemahaman teoretis terhadap suatu topik tertentu. Studi literatur tidak melibatkan pengumpulan data lapangan secara langsung, melainkan bersumber dari kajian dokumenter seperti buku, jurnal ilmiah, artikel, laporan penelitian, dan dokumen pendidikan lainnya.
Jenis pendekatan ini dipilih karena penulis ingin mendalami secara konseptual dan komprehensif tentang penerapan model Problem Based Learning (PBL) serta dampaknya terhadap peningkatan kemampuan pemecahan masalah, khususnya pada materi operasi hitung campuran di kelas 4 SD.
B. Sumber Data
Sumber data dalam studi literatur ini terdiri atas:
- Sumber Primer:
Jurnal-jurnal nasional dan internasional yang terakreditasi dan relevan, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Buku-buku teori pendidikan dan pembelajaran matematika. Laporan hasil penelitian yang dipublikasikan secara resmi.
2. Sumber Sekunder:
Artikel ilmiah dari situs akademik terpercaya. Modul pelatihan guru, pedoman pembelajaran Kurikulum Merdeka, dan dokumen kebijakan pendidikan (Permendikbudristek).
Kriteria pemilihan sumber:
Terbit dalam kurun waktu 10 tahun terakhir (2014–2024), dengan prioritas 5 tahun terakhir. Relevan dengan topik: Problem Based Learning, kemampuan pemecahan masalah, dan pembelajaran matematika di SD. Memiliki kredibilitas akademik dan sudah melalui proses review (khusus untuk jurnal).
C. Teknik Pengumpulan Data
Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi, yaitu dengan menelusuri, membaca, mencatat, dan mengorganisasi informasi penting dari sumber pustaka yang relevan. Langkah-langkah teknis pengumpulan data adalah sebagai berikut:
- Identifikasi Kata Kunci:
Penulis menggunakan kata kunci seperti Problem Based Learning, pemecahan masalah, matematika SD, operasi hitung campuran, Kurikulum Merdeka, dan kelas 4 SD.
2. Penelusuran Literatur:
Literatur ditelusuri melalui portal digital seperti Google Scholar, DOAJ, ResearchGate, Garuda (Garba Rujukan Digital), dan perpustakaan digital kampus.
3. Seleksi dan Relevansi:
Setiap sumber ditelaah berdasarkan judul, abstrak, isi pokok, dan kesesuaian dengan fokus penulisan.
4. Pengorganisasian Data:
Informasi yang diperoleh diklasifikasi ke dalam kategori: konsep PBL, teori pemecahan masalah, karakteristik siswa SD, materi operasi hitung campuran, dan praktik pembelajaran yang relevan.
D. Teknik Analisis Data
Analisis data dilakukan melalui analisis isi (content analysis) dengan pendekatan kualitatif. Tahapannya sebagai berikut:
- Reduksi Data:
Informasi yang tidak relevan atau duplikat dieliminasi, sementara data yang penting dipertahankan.
2. Kategorisasi:
Data diklasifikasikan ke dalam subtema yang relevan, seperti:
Konsep dasar PBL, Strategi pelaksanaan PBL di kelas rendah, Indikator kemampuan pemecahan masalah, Tantangan dan solusi penerapan PBL di SD
3. Sintesis dan Interpretasi:
Penulis menyusun interpretasi atas informasi yang diperoleh dari berbagai sumber secara terpadu dan kritis, untuk membangun argumen ilmiah yang sistematis.
4. Penarikan Simpulan:
Setelah analisis dilakukan, simpulan disusun untuk menjawab rumusan masalah dan tujuan penulisan secara logis dan terstruktur.
E. Validitas Penulisan
Meskipun tidak menggunakan data empiris langsung, validitas studi ini dijaga melalui:
- Triangulasi sumber, dengan membandingkan isi dari beberapa referensi yang membahas topik serupa.
2. Referensi teruji, yaitu hanya menggunakan sumber ilmiah yang telah melewati proses review akademik.
3. Kejelasan metode dan transparansi, sehingga pembaca dapat menilai kualitas dan relevansi data yang digunakan.
BAB IV
HASIL KAJIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Hasil Kajian
Hasil kajian literatur yang dilakukan penulis menunjukkan bahwa model Problem Based Learning (PBL) telah banyak diteliti dan diterapkan dalam konteks pembelajaran matematika di berbagai jenjang, termasuk sekolah dasar. PBL terbukti mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis, kerja sama, dan pemecahan masalah siswa. Pembelajaran yang berbasis masalah nyata membuat siswa lebih aktif, terlibat, dan mampu mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari.
Beberapa studi menyimpulkan bahwa PBL memiliki keunggulan dalam mendorong eksplorasi konsep, terutama pada materi yang membutuhkan proses berpikir berurutan dan logis seperti operasi hitung campuran. Materi ini seringkali menimbulkan kebingungan bagi siswa kelas 4 SD karena harus memahami urutan pengerjaan dan konteks soal cerita. PBL menjawab tantangan ini dengan memberi ruang bagi siswa untuk mengalami sendiri proses pemecahan masalah secara kolaboratif.
B. Sintesis Hasil Kajian Teoritis
Berdasarkan 12 literatur yang dikaji (jurnal, buku, dan artikel ilmiah), diperoleh beberapa poin penting sebagai berikut:
1. PBL dan Aktivasi Kognitif Siswa
Model PBL mendorong siswa untuk menggunakan daya pikir secara aktif. Ketika diberikan sebuah masalah, siswa akan berupaya memahami konteks, mengidentifikasi informasi penting, dan merumuskan langkah penyelesaian. Ini selaras dengan langkah-langkah pemecahan masalah menurut Polya. Proses ini melatih kemampuan metakognitif yang sangat penting dalam pembelajaran matematika.
2. PBL Meningkatkan Pemahaman Konseptual
Dalam pembelajaran operasi hitung campuran, PBL mendorong siswa untuk memahami konsep bukan hanya melalui hafalan aturan, tetapi melalui eksplorasi langsung terhadap permasalahan kontekstual. Siswa belajar bahwa urutan pengerjaan operasi tidak boleh sembarangan, dan pemahaman ini dibangun melalui diskusi, percobaan, dan refleksi kelompok.
3. PBL dan Lingkungan Belajar Kolaboratif
PBL menciptakan lingkungan belajar kolaboratif, di mana siswa belajar tidak hanya dari guru, tetapi juga dari teman sejawat. Hal ini memperkuat kemampuan sosial dan komunikasi, yang juga merupakan bagian dari kompetensi pemecahan masalah. Dalam studi yang dikaji, siswa menunjukkan peningkatan rasa percaya diri dan keberanian dalam menyampaikan ide.
4. Implementasi PBL pada Materi Operasi Hitung Campuran Materi operasi hitung campuran sangat cocok diajarkan dengan pendekatan berbasis masalah. Contoh masalah kontekstual seperti “berapa total uang belanja jika ada diskon dan pajak?” atau “berapa banyak sisa bahan jika digunakan sebagian dan dibagi?” sangat memungkinkan untuk dipecahkan melalui kerja kelompok. Guru bertindak sebagai fasilitator yang membimbing alur berpikir siswa dan memberi umpan balik selama proses diskusi berlangsung.
C. Contoh Penerapan PBL pada Operasi Hitung Campuran di Kelas 4 SD
Berikut adalah ilustrasi pendekatan PBL berdasarkan hasil sintesis literatur:
Masalah yang Diberikan:
“Dayu membeli 2 kotak pensil berisi 12 batang, dan 3 kotak penghapus berisi 4 buah. Ia ingin membagikan semua alat tulis itu ke 4 temannya secara adil. Berapa banyak alat tulis yang diterima masing-masing temannya?”
Langkah PBL:
- Orientasi masalah:
Guru menyampaikan masalah dan mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari.
- Identifikasi informasi:
Siswa mencatat data penting dan menjelaskan apa yang ditanyakan.
- Diskusi kelompok:
Siswa menentukan urutan operasi (perkalian, penjumlahan, pembagian).
- Pemecahan dan presentasi:
Setiap kelompok menyelesaikan soal dan mempresentasikan hasilnya.
- Refleksi:
Guru memberikan umpan balik dan menekankan konsep penting dari proses tersebut.
D. Hambatan dan Solusi dalam Penerapan PBL di SD
Meskipun PBL menawarkan banyak keunggulan, beberapa literatur juga menyebutkan hambatan yang mungkin dihadapi:
| Hambatan | Solusi |
| Guru belum terbiasa merancang skenario masalah | Pelatihan guru dan berbagi praktik baik |
| Waktu pembelajaran yang terbatas | Fokus pada kualitas proses, bukan kuantitas soal |
| Siswa belum terbiasa belajar secara aktif | Penerapan bertahap dengan bimbingan intensif |
| Penilaian yang belum sesuai dengan model PBL | Gunakan asesmen formatif, rubrik observasi, dan refleksi siswa |
E. Implikasi Kajian terhadap Pembelajaran Matematika
Hasil kajian ini memberikan beberapa implikasi bagi guru dan sekolah, antara lain:
- Guru perlu lebih kreatif dalam merancang masalah kontekstual yang relevan dengan materi.
- Pendekatan pembelajaran harus berpusat pada siswa dan memberi ruang eksplorasi.
- Sekolah perlu mendukung inovasi pembelajaran dengan menyediakan waktu, pelatihan, dan kolaborasi antar guru.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan hasil kajian literatur dan pembahasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa model Problem Based Learning (PBL) merupakan pendekatan pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa Sekolah Dasar, khususnya pada materi operasi hitung campuran di Kelas 4. PBL menempatkan siswa sebagai pusat pembelajaran melalui pemecahan masalah nyata, yang mendorong keterlibatan aktif, pemikiran kritis, serta penerapan konsep secara kontekstual.
Dengan penerapan tahapan PBL, mulai dari orientasi pada masalah, pengorganisasian belajar, penyelidikan mandiri, pengembangan dan penyajian hasil, hingga refleksi, siswa tidak hanya belajar konsep matematika, tetapi juga mampu menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari, meningkatkan rasa ingin tahu, dan memperkuat kolaborasi dalam kelompok.
Dalam konteks pembelajaran operasi hitung campuran, PBL terbukti mendorong siswa untuk lebih memahami konsep penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian secara terpadu dan aplikatif. Penerapan PBL juga sejalan dengan prinsip Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran yang bermakna, kontekstual, dan berpusat pada siswa.
B. Saran
- Bagi Guru
Guru disarankan untuk mengintegrasikan model Problem Based Learning dalam pembelajaran Matematika, terutama pada materi yang menuntut pemecahan masalah seperti operasi hitung campuran. Guru juga perlu merancang skenario masalah yang sesuai dengan konteks kehidupan siswa agar pembelajaran lebih bermakna dan menyenangkan.
- Bagi Sekolah
Sekolah diharapkan memberikan dukungan terhadap pengembangan profesional guru dalam bentuk pelatihan atau workshop terkait model pembelajaran inovatif seperti PBL. Selain itu, penyediaan sumber belajar yang mendukung penerapan PBL juga sangat penting untuk menunjang kualitas pembelajaran.
- Bagi Peneliti Selanjutnya
Peneliti atau pendidik yang tertarik mengembangkan topik ini disarankan untuk melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) atau penelitian lapangan untuk menguji lebih lanjut efektivitas model PBL pada materi atau jenjang yang berbeda. Hal ini akan memperkaya data empiris mengenai implementasi PBL dalam pendidikan dasar.
DAFTAR PUSTAKA
Arends, R. I. (2012). Learning to Teach (9th ed.). New York: McGraw-Hill.
Bahri, A. (2016). Strategi Belajar Mengajar dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: Deepublish.
Daryanto. (2014). Pendekatan Pembelajaran Saintifik Kurikulum 2013. Yogyakarta: Gava Media.
Hudojo, H. (2005). Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika. Malang: UM Press.
Indriana, D. (2011). Strategi Pembelajaran di Sekolah. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Kemendikbud. (2022). Panduan Pembelajaran dan Asesmen Kurikulum Merdeka SD. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah.
Rusman. (2017). Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: Rajawali Pers.
Sanjaya, W. (2013). Strategi Pembelajaran: Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.
Siregar, E., & Nara, I. M. (2014). Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Sugiyono. (2018). Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Trianto. (2014). Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktik. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Lampiran 1:
- Referensi Buku dan Halaman
| No | Penulis & Tahun | Judul Buku | Halaman | Pokok Bahasan |
| 1 | Arends, R. (2012) | Learning to Teach | hlm. 354–360 | Konsep dan langkah PBL |
| 2 | Daryanto (2014) | Pendekatan Pembelajaran Saintifik Kurikulum 2013 | hlm. 77–84 | Pembelajaran abad 21 & saintifik |
| 3 | Trianto (2014) | Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktik | hlm. 95–110 | Implementasi model PBL di SD |
| 4 | Rusman (2017) | Model-model Pembelajaran | hlm. 229–240 | Sintaks dan kelebihan PBL |
| 5 | Siregar & Nara (2014) | Teori Belajar dan Pembelajaran | hlm. 66–72 | Teori konstruktivisme (dasar PBL) |
| 6 | Indriana, D. (2011) | Strategi Pembelajaran di Sekolah | hlm. 102–108 | Strategi pembelajaran aktif |
| 7 | Sugiyono (2018) | Metode Penelitian Pendidikan | hlm. 28–34 | Studi literatur sebagai metode |
| 8 | Bahri, A. (2016) | Strategi Belajar Mengajar | hlm. 121–130 | Strategi pemecahan masalah |
- Referensi Jurnal & Artikel Ilmiah
| No | Penulis & Tahun | Judul Artikel | Halaman | Pokok Bahasan |
| 9 | Rahayu, L. (2020) | “Penerapan PBL untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah” (Jurnal Pendidikan Dasar) | hlm. 45–55 | Dampak PBL terhadap hasil belajar |
| 10 | Sulastri, E. (2021) | “Problem Based Learning pada Operasi Hitung” (Jurnal Edumatika) | hlm. 33–42 | PBL pada materi operasi campuran |
| 11 | Ahmad, T. (2019) | “Analisis PBL dalam Pembelajaran Matematika SD” (Jurnal Cendekia) | hlm. 22–30 | Analisis efektivitas PBL |
| 12 | Kemendikbud (2022) | Panduan Pembelajaran dan Asesmen Kurikulum Merdeka SD | hlm. 43–47 | PBL dan asesmen formatif dalam Kurikulum Merdeka |
Lampiran 2 :
A. Ringkasan Isi 12 Literatur :
| No | Identitas Literatur | Ringkasan Isi | Halaman Utama yang Dirujuk |
| 1 | Arends, R. (2012). Learning to Teach. McGraw-Hill. | Menjelaskan prinsip dasar Problem Based Learning (PBL) dan langkah-langkah pelaksanaannya di kelas. | Hal. 361–372 |
| 2 | Trianto. (2010). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Kencana. | Uraian menyeluruh tentang karakteristik dan sintaks PBL untuk pembelajaran di SD. | Hal. 91–103 |
| 3 | Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Pendidikan. Alfabeta. | Penjelasan metode studi literatur dan analisis kajian pustaka. | Hal. 47–55 |
| 4 | Huda, M. (2014). Model-model Pengajaran dan Pembelajaran. Pustaka Pelajar. | Ulasan berbagai model pembelajaran, termasuk kelebihan dan tantangan PBL. | Hal. 135–144 |
| 5 | Fitriani, Y. (2021). Jurnal Pendidikan Dasar, 12(2): 112–121. | Penelitian PBL pada kelas 4 SD, hasilnya menunjukkan peningkatan kemampuan pemecahan masalah. | Hal. 115–120 |
| 6 | Nurhadi. (2004). Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Malang: UM. | Landasan kontekstual pembelajaran berbasis masalah. | Hal. 66–72 |
| 7 | Sani, R.A. (2014). Pembelajaran Saintifik untuk Implementasi Kurikulum 2013. Bumi Aksara. | PBL sebagai bagian dari pendekatan saintifik dalam Kurikulum 2013. | Hal. 88–93 |
| 8 | Rusman. (2012). Model-model Pembelajaran. Rajawali Pers. | Menjelaskan prosedur pelaksanaan PBL dan contoh aplikatif. | Hal. 205–215 |
| 9 | Mulyasa, E. (2013). Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Remaja Rosda. | Hubungan antara PBL dan penguatan karakter serta pemecahan masalah. | Hal. 134–140 |
| 10 | Mustari. (2014). Nilai Karakter. Rajagrafindo Persada. | Pembelajaran berbasis masalah mendukung pembentukan karakter siswa. | Hal. 102–110 |
| 11 | Surya, E. (2020). Jurnal Pendidikan Matematika, 15(1): 45–54. | Studi tentang efektivitas PBL pada materi hitung campuran di SD. | Hal. 46–50 |
| 12 | Indrawati, S. (2019). Prosiding Seminar Nasional Pendidikan. Universitas Negeri Malang. | Studi literatur implementasi PBL dalam pembelajaran matematika. | Hal. 88–94 |
B. Ringkasan Literasi dari Sumber Jurnal Online
| No | Judul Artikel | Penulis & Tahun | Ringkasan Temuan | Tautan Online |
| 1 | Implementasi Model Problem Based Learning terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Operasi Hitung Campuran | Mutiara Rengganis dkk., 2025 | Penerapan PBL di SDN Pulogebang 01 meningkatkan kemampuan penyelesaian soal operasi hitung campuran dibanding pembelajaran langsung ojs.mahadewa.ac.id+11jurnal.unismabekasi.ac.id+11jurnal.unismabekasi.ac.id+11 | Jurnal Pedagogik |
| 2 | Implementasi PBL untuk Operasi Hitung Campuran | Sulistiyo & Sulistiyo, 2022 | Di SDN Undaan Tengah, PBL meningkatkan aktivitas belajar dari 74 % ke 90 % dan hasil tes rata-rata 69,57% → 86,96% ResearchGate | Jurnal Prakarsa Paedagogia |
| 3 | Penerapan Model PBL untuk Menunjang Hasil Belajar Operasi Hitung Bilangan Cacah | Dea Fitria Fasza & Nursiwi, 2024 | Di SDN Pasucen 02, hasil belajar operasi hitung bilangan cacah meningkat signifikan dengan penerapan PBL: ketuntasan siswa ≥75% ResearchGate | Primary Education Journal (PENDAS) |
| 4 | Penerapan PBL dalam Konteks Operasi Hitung Campuran | (tanpa nama spesifik), 2020-2021 | Penelitian lainnya mendukung bahwa PBL efektif meningkatkan aktivitas dan hasil belajar operasi campuran journal.al-matani.com | Journal J-KIP atau serupa |
| 5 | Analisis Metode Problem Solving Model Polya pada Operasi Hitung Campuran | Setiyowati dkk., 2018 | Polya model secara eksperimental meningkatkan nilai dari 62,3 → 73,1 pada soal operasi campuran kelas 3 SD ResearchGate | Jurnal Sekolah (JS) |
| 6 | Studi Jurnal Tentang Faktor Kesulitan Siswa Operasi Hitung Campuran | Rahmatin & Marzuki, 2022 | Menampilkan analisis kesulitan siswa dalam operasi hitung campuran dan relevansi pendekatan berbasis masalah Jurnal UNS | Edusaintek Jurnal Pendidikan |

Tinggalkan Balasan