Kategori: Pendidikan Karakter & Sosial-Emosional
-

Tahun Baru Islam 1448 H dan Tahun Ajaran Baru 2026/2027: Momentum Hijrah Menuju Pendidikan yang Lebih Bermakna
Pendahuluan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah hadir hampir bersamaan dengan dimulainya Tahun Ajaran Baru 2026/2027. Pertemuan dua momentum penting ini bukan sekadar pergantian angka dalam kalender, tetapi menjadi kesempatan berharga untuk melakukan refleksi, evaluasi, dan perbaikan diri. Dalam dunia pendidikan, Tahun Baru Islam dapat menjadi sumber inspirasi untuk membangun semangat baru dalam belajar, mengajar, dan…
-
Belajar dengan Rasa, Bukan Hanya Logika
Pernahkah kita melihat anak yang pandai berhitung, tapi sulit bergaul? Atau sebaliknya, anak yang penuh empati tapi nilai akademiknya tidak menonjol? Pendidikan sering kali menaruh perhatian besar pada angka dan logika, seolah-olah anak adalah mesin pengolah data yang siap menerima instruksi. Padahal, mereka adalah manusia kecil dengan hati yang mudah terluka dan rasa yang butuh…
-
Antara Teguran dan Senyuman: Seni Mengelola Kelas
Mana yang terlebih dahulu ? Kita berbuat baik, kemudian orang lain tersenyum; atau orang berbuat baik kepada kita, baru kita tersenyum
-
Ketika Kelas Menjadi Keluarga: Menumbuhkan Empati dan Tanggung Jawab Anak SD
(CASEL – Kesadaran Sosial & Hubungan Sosial) Pendahuluan Suatu siang di kelas 4, Larsodo dan Patar kembali berdebat soal siapa yang duluan memegang bola kasti. Guru yang melihatnya tidak langsung memarahi, tapi memanggil mereka untuk ikut bermain bersama kelompok lain. Beberapa hari kemudian, pemandangan berbeda terlihat: Patar justru membantu Lasrodo dengan mengambilkan pulpennya ketika jatuh.…
-
Mengapa Anak Sulit Didekati? Mungkin Kita Belum Mengenalnya Secara Budaya
(Culturally Responsive Teaching – pentingnya memahami konteks budaya siswa) Pendahuluan Pernah merasa sudah mencoba berbagai cara mengajar, dari metode ceramah, permainan, sampai hadiah kecil, tapi tetap saja ada satu-dua siswa yang seperti “berdinding”? Senyum tidak dibalas, pertanyaan dijawab sepotong-sepotong, dan pandangan mata seperti selalu menjaga jarak.Lalu kita mulai bertanya-tanya, “Apa salah saya?”Padahal, masalahnya mungkin bukan…



