Ramadan selalu dimulai dengan satu hal yang sederhana namun menentukan: niat. Ia tidak terlihat, tidak terdengar, tetapi menentukan arah seluruh perjalanan. Tanpa niat, puasa hanya menjadi rutinitas tahunan.
Niat adalah kompas batin. Ia mengarahkan langkah ketika semangat melemah dan menjaga tujuan ketika godaan datang. Dalam kehidupan, banyak orang gagal bukan karena tidak mampu, tetapi karena niatnya tidak pernah benar-benar diteguhkan.
Sebagai seorang pendidik, saya sering merenung: apakah setiap pagi saya datang ke sekolah dengan niat yang benar? Apakah mengajar hanya kewajiban, atau benar-benar panggilan untuk membentuk masa depan?
Ramadan mengajarkan bahwa nilai sebuah amal bukan pada besarnya tindakan, tetapi pada ketulusan niat yang melatarinya. Hal kecil bisa menjadi besar, jika niatnya lurus.
Di ruang kelas, niat menghadirkan energi berbeda. Siswa bisa merasakan mana guru yang hadir dengan hati dan mana yang sekadar menjalankan tugas. Maka hari pertama ini, mari kita luruskan niat. Karena perjalanan 30 hari ke depan bukan tentang menahan lapar, tetapi tentang membangun karakter dari dalam diri.
Tinggalkan Balasan