Puasa memberi ruang untuk diam. Dalam diam itu, kita mulai melihat ke dalam diri. Apa yang selama ini luput kita sadari? Apa yang sering kita salahkan kepada orang lain, padahal mungkin bersumber dari diri sendiri?
Kesadaran diri bukan tentang menyalahkan diri, tetapi tentang memahami diri. Kita belajar mengenali emosi, kelemahan, dan kebiasaan yang perlu diperbaiki. Ramadan menghadirkan suasana yang mendukung proses itu.
Saat lapar dan haus datang, kita menjadi lebih peka. Kita sadar betapa seringnya kita mengeluh untuk hal-hal kecil. Kita sadar betapa nikmat yang selama ini ada sering kita abaikan.
Dalam dunia pendidikan, kesadaran diri sangat penting. Siswa yang sadar akan potensinya akan lebih percaya diri. Guru yang sadar akan kekurangannya akan terus belajar dan berkembang.
Sering kali masalah bukan karena kita tidak mampu, tetapi karena kita tidak mau bercermin. Ramadan seperti cermin besar yang memperlihatkan siapa kita sebenarnya. Hari kedua ini mengajak kita berani melihat ke dalam. Karena perubahan tidak pernah dimulai dari luar, tetapi dari kesadaran diri yang jujur dan tulus

Tinggalkan Balasan