Ramadan mengajarkan kesetaraan. Saat lapar datang, semua merasakannya. Tidak peduli jabatan atau pencapaian, setiap orang tetap manusia yang membutuhkan.
Rendah hati bukan berarti merendahkan diri. Ia adalah kesadaran bahwa apa pun yang kita miliki bukan semata hasil usaha sendiri. Ada doa, dukungan, dan kesempatan yang menyertainya.
Sering kali kesombongan tumbuh ketika keberhasilan datang. Kita merasa lebih tahu, lebih mampu, dan lebih benar. Padahal kesombongan justru menutup pintu pembelajaran.
Dalam dunia pendidikan, rendah hati adalah sikap yang menjaga hubungan tetap hangat. Guru yang mau mendengar siswa menunjukkan kedewasaan. Siswa yang mau menerima koreksi menunjukkan kesiapan untuk berkembang.
Ilmu berkembang pada hati yang terbuka. Ketika seseorang merasa sudah cukup, proses belajar berhenti. Hari ketiga belas ini mengingatkan bahwa rendah hati adalah kekuatan yang tenang. Ia tidak berteriak, tetapi tetap dihormati. Karena orang yang rendah hati, justru lebih mudah diterima oleh banyak hati.

Tinggalkan Balasan