Pendahuluan
Keberagaman murid merupakan realitas yang tidak dapat dipisahkan dari dunia pendidikan. Dalam satu kelas, guru akan menemukan murid dengan kemampuan akademik yang berbeda, minat yang beragam, latar belakang sosial budaya yang tidak sama, hingga kebutuhan belajar yang unik. Sebagian murid mampu memahami materi dengan cepat, sementara yang lain memerlukan waktu lebih lama. Ada murid yang lebih mudah belajar melalui gambar dan video, ada pula yang lebih memahami melalui praktik langsung atau diskusi.
Kondisi tersebut menuntut guru untuk tidak lagi menggunakan pendekatan pembelajaran yang seragam. Paradigma pendidikan modern menghendaki pembelajaran yang mampu mengakomodasi keberagaman sehingga setiap murid memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang sesuai potensinya.
Dalam beberapa tahun terakhir, guru di Indonesia cukup akrab dengan konsep Pembelajaran Berdiferensiasi (Differentiated Instruction/DI) yang diperkenalkan secara luas pada masa transformasi pendidikan melalui Kurikulum Merdeka. Namun seiring berkembangnya konsep pendidikan inklusif, muncul pendekatan yang semakin banyak dibahas yaitu Desain Universal untuk Pembelajaran (DUP) atau Universal Design for Learning (UDL).
Kedua pendekatan tersebut memiliki tujuan yang sama, yaitu memberikan layanan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan murid yang beragam. Namun dalam praktiknya, banyak guru bertanya: manakah yang lebih fleksibel? Mana yang lebih mudah diterapkan? Dan mana yang lebih memungkinkan untuk dijalankan secara berkelanjutan dalam mewujudkan pembelajaran yang bermakna?
Artikel ini mencoba mengulas kedua pendekatan tersebut secara objektif berdasarkan pengalaman praktik pembelajaran di lapangan.
Memahami DUP dan DI
Pembelajaran Berdiferensiasi (DI)
Pembelajaran Berdiferensiasi adalah pendekatan yang menyesuaikan proses pembelajaran berdasarkan kebutuhan belajar murid. Guru terlebih dahulu melakukan pemetaan terhadap kesiapan belajar, minat, dan profil belajar murid. Setelah itu guru melakukan penyesuaian pada konten, proses, produk, maupun lingkungan belajar.
Prinsip utama DI adalah bahwa setiap murid memiliki kebutuhan yang berbeda sehingga guru perlu memberikan perlakuan yang berbeda sesuai kebutuhan tersebut.
Sebagai contoh, dalam pembelajaran IPA tentang sistem pernapasan, guru dapat memberikan bacaan sederhana kepada kelompok murid yang masih membutuhkan bantuan, sementara kelompok lain diberikan artikel yang lebih kompleks untuk dianalisis.
Pendekatan ini menempatkan guru sebagai perancang berbagai strategi pembelajaran yang berbeda untuk kelompok murid yang berbeda pula.
Desain Universal untuk Pembelajaran (DUP)
Berbeda dengan DI, DUP berangkat dari gagasan bahwa hambatan belajar sering kali berasal dari desain pembelajaran yang kurang fleksibel, bukan semata-mata dari kemampuan murid.
Karena itu, sejak tahap perencanaan, guru merancang pembelajaran yang dapat diakses oleh semua murid. Guru menyediakan berbagai pilihan cara belajar, berbagai bentuk penyajian materi, serta berbagai cara bagi murid untuk menunjukkan pemahamannya.
DUP memiliki tiga prinsip utama:
- Beragam Cara Keterlibatan (Engagement)
- Beragam Cara Representasi (Representation)
- Beragam Cara Aksi dan Ekspresi (Action and Expression)
Dalam pendekatan ini, guru tidak perlu membuat pembelajaran yang berbeda untuk setiap kelompok murid, melainkan menyediakan berbagai pilihan yang dapat digunakan oleh semua murid sesuai kebutuhan masing-masing.
DUP dan DI: Persamaan yang Sering Terlupakan
Sebelum membandingkan keduanya, penting untuk dipahami bahwa DUP dan DI bukanlah dua pendekatan yang saling bertentangan.
Keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu:
- Mengakomodasi keberagaman murid.
- Mengurangi hambatan belajar.
- Meningkatkan partisipasi murid.
- Mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid.
- Menciptakan pengalaman belajar yang bermakna.
Perbedaannya terletak pada cara mencapai tujuan tersebut.
DI lebih fokus pada penyesuaian pembelajaran berdasarkan kebutuhan murid yang telah dipetakan, sedangkan DUP lebih fokus pada perancangan pembelajaran yang fleksibel sejak awal agar dapat digunakan oleh semua murid.
Mana yang Lebih Fleksibel?
Jika berbicara mengenai fleksibilitas, DUP memiliki keunggulan yang cukup menonjol.
Pada DI, guru perlu melakukan identifikasi kebutuhan belajar terlebih dahulu sebelum menentukan strategi yang berbeda untuk setiap kelompok murid. Proses ini membutuhkan waktu, tenaga, dan dokumentasi yang tidak sedikit.
Sebaliknya, DUP dirancang dengan asumsi bahwa keberagaman sudah pasti ada dalam setiap kelas. Oleh karena itu guru langsung menyediakan berbagai alternatif dalam satu desain pembelajaran.
Misalnya ketika mengajarkan materi tentang lingkungan hidup, guru dapat menyediakan:
- Video pembelajaran.
- Bacaan teks.
- Infografis.
- Diskusi kelompok.
- Praktik observasi.
Murid bebas memilih media yang paling sesuai dengan gaya belajarnya.
Dalam konteks ini, DUP memberikan ruang yang lebih luas bagi murid untuk menentukan cara belajar yang nyaman tanpa harus menunggu guru mengelompokkan mereka terlebih dahulu.
Dari sisi fleksibilitas desain pembelajaran, DUP dapat dikatakan lebih unggul karena pilihan belajar tersedia bagi semua murid.
Mana yang Lebih Mudah Diterapkan?
Pertanyaan ini sering menjadi bahan diskusi di kalangan guru.
Pada tahap awal, banyak guru merasa DI lebih mudah dipahami karena konsepnya sederhana: petakan kebutuhan murid lalu sesuaikan pembelajaran.
Namun dalam praktik jangka panjang, DI sering menghadapi beberapa tantangan:
- Membutuhkan asesmen diagnostik secara rutin.
- Memerlukan pengelompokan murid yang dinamis.
- Membutuhkan persiapan materi yang berbeda.
- Menuntut pengelolaan kelas yang lebih kompleks.
Ketika jumlah murid dalam satu kelas mencapai 30–40 orang, penerapan DI secara konsisten dapat menjadi pekerjaan yang cukup berat.
Sebaliknya, DUP memang memerlukan perubahan cara berpikir pada tahap awal. Guru harus belajar merancang pembelajaran yang lebih terbuka dan menyediakan banyak pilihan.
Namun setelah pola pikir tersebut terbentuk, proses perencanaannya cenderung lebih sederhana karena guru tidak perlu terus-menerus membuat perlakuan yang berbeda untuk setiap kelompok murid.
Oleh karena itu, dari sisi implementasi jangka panjang, DUP sering dianggap lebih praktis dan lebih mudah dipertahankan dibandingkan DI.
Kontinuitas dalam Pembelajaran
Salah satu tantangan terbesar dalam dunia pendidikan bukanlah memulai sebuah inovasi, melainkan mempertahankannya.
Banyak pendekatan pembelajaran terlihat menarik pada awalnya tetapi sulit dijalankan secara konsisten karena memerlukan energi yang besar.
Dalam konteks kontinuitas, DUP memiliki potensi yang lebih kuat.
Mengapa demikian?
Karena DUP berfokus pada desain pembelajaran yang inklusif sejak awal. Ketika guru sudah terbiasa menyediakan pilihan aktivitas, media, dan bentuk penilaian, pola tersebut dapat terus digunakan pada berbagai materi pembelajaran.
Sementara itu, DI sering kali memerlukan pemetaan ulang, pengelompokan ulang, dan modifikasi ulang yang cukup intensif.
Bukan berarti DI tidak dapat dijalankan secara berkelanjutan, tetapi tingkat kompleksitasnya relatif lebih tinggi dibandingkan DUP.
Dengan kata lain, DUP menawarkan sistem yang lebih berkelanjutan karena pembelajaran dirancang untuk mengakomodasi keberagaman secara otomatis.
Komitmen Guru dalam Implementasi
Baik DUP maupun DI tidak akan berhasil tanpa komitmen guru.
Keberhasilan kedua pendekatan tersebut sangat bergantung pada kesediaan guru untuk terus belajar dan beradaptasi.
Pada DI, komitmen guru terlihat dalam kemampuan melakukan asesmen kebutuhan belajar dan memberikan layanan yang berbeda sesuai kebutuhan murid.
Pada DUP, komitmen guru terlihat dalam kemauan menyediakan berbagai pilihan belajar dan menciptakan lingkungan yang ramah bagi semua murid.
Namun jika dilihat dari beban kerja, DUP cenderung lebih realistis bagi sebagian besar guru Indonesia yang mengajar banyak murid dalam satu kelas dengan keterbatasan waktu dan sumber daya.
Pendekatan ini tidak menuntut guru untuk selalu membuat banyak versi pembelajaran yang berbeda, tetapi lebih menekankan pada penyediaan pilihan yang dapat diakses semua murid.
Pembelajaran Bermakna: Mana yang Lebih Efektif?
Pembelajaran bermakna terjadi ketika murid:
- Merasa dihargai.
- Terlibat aktif.
- Memahami tujuan belajar.
- Mampu menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan nyata.
- Memiliki kesempatan menunjukkan kemampuan terbaiknya.
Dalam hal ini, baik DUP maupun DI sama-sama mampu menghasilkan pembelajaran bermakna.
Namun DUP memiliki kelebihan karena memberikan otonomi yang lebih besar kepada murid.
Murid dapat memilih cara belajar, cara memahami informasi, dan cara menunjukkan hasil belajar sesuai kekuatan masing-masing.
Pilihan tersebut meningkatkan rasa kepemilikan terhadap proses belajar sehingga motivasi intrinsik murid cenderung lebih tinggi.
Sementara itu, DI lebih banyak mengandalkan keputusan guru dalam menentukan bentuk diferensiasi yang dianggap sesuai bagi murid.
Karena itu, DUP sering dipandang lebih sejalan dengan prinsip pembelajaran abad ke-21 yang menekankan kemandirian dan agensi murid.
Kesimpulan
Perdebatan antara DUP dan DI sebenarnya bukan tentang menentukan mana yang paling benar, melainkan bagaimana keduanya dapat membantu guru menghadapi keberagaman murid.
Pembelajaran Berdiferensiasi (DI) sangat bermanfaat untuk memahami kebutuhan spesifik murid dan memberikan intervensi yang tepat. Namun pendekatan ini membutuhkan asesmen, perencanaan, dan pengelolaan kelas yang relatif lebih kompleks.
Sementara itu, Desain Universal untuk Pembelajaran (DUP) menawarkan pendekatan yang lebih fleksibel, lebih inklusif, dan lebih berkelanjutan karena pembelajaran dirancang sejak awal agar dapat diakses oleh semua murid.
Jika ditinjau dari aspek fleksibilitas, kemudahan implementasi jangka panjang, kontinuitas, dan keberlanjutan dalam mewujudkan pembelajaran bermakna, DUP memiliki sejumlah keunggulan yang menjadikannya sangat relevan bagi praktik pendidikan masa kini.
Meskipun demikian, pilihan terbaik bukanlah menggunakan DUP atau DI secara terpisah, melainkan mengintegrasikan keduanya. DUP dapat menjadi fondasi dalam merancang pembelajaran yang inklusif, sedangkan DI dapat digunakan sebagai strategi tambahan untuk memenuhi kebutuhan belajar tertentu yang memerlukan perhatian lebih spesifik.
Dengan demikian, guru tidak hanya mampu mengelola keberagaman murid, tetapi juga membangun lingkungan belajar yang benar-benar memberikan kesempatan kepada setiap anak untuk tumbuh, berkembang, dan mencapai potensi terbaiknya.


Tinggalkan Balasan